Select Menu

sponsor

sponsor
Select Menu

Favourite

SELAMAT HARI RAYA 'IDUL FITHRI 1437 H : TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM WA JA'ALANA MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN

Layanan Kami

PELATIHAN

CERITA LAPANGAN

Berita GEMI

ARTIKEL GEMI

Gunung Kidul merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki karakteristik pedesaan, bergunung-gunung, kering, dan kurang subur. Secara perekonomian, Gunung Kidul juga merupakan daerah dengan pendapatan per kapita paling rendah dengan mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah petani lahan kering. Dengan hanya mengandalkan hasil usaha pertanian lahan kering dan luasan lahan tidak besar, setiap keluarga di Gunung Kidul tentu saja membutuhkan sumber penghidupan lain yang mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Upaya  yang dilakukan umumnya adalah berdagang, menjadi buruh di kota, pengrajin, ataupun aktivitas usaha lainnya.
Anggota GEMI juga mewakili profil sebagian besar keluarga di Gunung Kidul, bahkan ada beberapa anggota yang  kehidupan sosial ekonominya jauh tertinggal dari kebanyakan rumah tangga di sekitarnya. Bahkan pada tahun 2015, GEMI memfasilitasi anggota dampingannya, seorang nenek dhuafa dan telah menjanda yang merawat beberapa cucunya yang ditinggalkan orang tuanya, untuk mendapatkan program bedah rumah dari BAZNAS. Program ini bertujuan untuk merekonstruksi rumah tidak layak huni menjadi rumah layak huni yang memenuhi persyaratan kesehatan bagi penghuninya. Anggota GEMI yang mendapat akses bantuan ini bernama Mbah Lamiyem. Mbah Lamiyem ini merupakan perempuan kepala keluarga yang tinggal dalam sebuah rumah yang lebih layak disebut gubug di pinggir hutan, karena rumah dan hartanya  telah tergadaikan untuk menutup hutang anaknya terhadap rentenir.
Mbah Lamiyem memiliki dua orang cucu, bahkan salah satunya seorang perempuan, berinisial YS , yang sudah mulai menginjak dewasa dan telah menikah di usia muda.  Di umur pernikahan yang masih seumur jagung, ternyata YS ditinggalkan suaminya, dan tidak ada kabar berita selama kurang lebih satu tahun. Dengan kondisi tanpa kepastian, YS memiliki keinginan untuk mengajukan gugat cerai kepada suaminya karena sudah tidak diberikan nafkah lahir dan batin. Akan tetapi, mengajukan gugat cerai bukanlah sebuah persoalan yang mudah bagi YS dan Mbah Lamiyem, semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, padahal untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja dirasakan sudah begitu berat.
Melihat kondisi YS dan Mbah Lasiyem, Fasilitator (Pendamping) GEMI berupaya mencarikan solusi atas problem pernikahan YS. Setelah mendapatkan beberapa informasi terkait pengajuan gugat cerai bagi warga tidak mampu, Fasilitator GEMI mengajak YS ke Kantor Pengadilan Agama untuk berkonsultasi. Alhamdulillah, ternyata Pengadilan Agama memiliki program bantuan pembiayaan gugat cerai atau menggratiskan biaya gugat cerai bagi warga tidak mampu. Setelah melakukan proses pengajuan dan pengurusan kelengkapan administrasi, dalam tempo sekitar satu bulan, proses perceraian dapat dilakukan dan YS telah resmi bercerai dari suaminya.
Tidak lama setelah proses perceraian dan YS mulai mampu menata kehidupan barunya, di usianya menginjak 20 tahun, YS akhirnya melangsungkan ikatan janji pernikahannya yang kedua pada Kamis, 17 November 2016. Sebagai keluarga besar GEMI, kami hanya bisa mendoakan, ”Semoga pernikahanmu kali ini lebih menenangkan dan menentramkan hatimu serta penuh keberkahan. Aamiin...”.


C:\Users\USER\Downloads\WhatsApp Image 2016-11-17 at 19.12.47.jpeg
Kulon Progo, The Jewel of Java, adalah salah satu kabupaten di Propinsi D.I.Yogyakarta yang selain terkenal dengan makanan khas tradisionalnya yaitu geblek, juga menyuguhkan berbagai tempat wisata yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi. Berbagai macam wisata ada di sini, mulai dari wisata air (pantai, waduk, air terjun, danau) hingga perbukitan seperti: bukit Kalibiru, kebun teh, puncak, gua-gua peninggalan zaman dahulu serta kebun buah naga dan lokasi sentra batik. Selain jaraknya dekat dengan Kota Jogja dan Kabupaten Bantul, kemudahan akses ke lokasi wisata juga mendukung. Sangat tepat pada tahun ini GEMI Kantor Bantul mengadakan wisata keluarga ke kabupaten tetangga ini.
Berawal dari aspirasi anggota GEMI yang menginginkan wisata bersama, Pengurus dan Manajemen sangat mengapresiasi hal tersebut hingga menjadi sebuah program kerja. Dengan cara menabung setiap minggunya, anggota dapat mengumpulkan dana untuk biaya wisata. Mulai dari Rp 2.000,00 per minggu, dalam satu tahun telah terkumpul kurang lebih Rp 100.000,00. Dengan jumlah nominal uang tersebut ternyata mampu mencukupi untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Kulon Progo. Akhirnya, pada Minggu, 6 November 2016, telah dilaksanakan wisata keluarga GEMI Kantor Bantul, dengan menggunakan tiga bus, dengan jumlah peserta sebanyak 146 orang dewasa, tidak terhitung dengan anak-anak yang menjadi peserta tambahan.  
Berangkat pada pukul 08.15, tiga bus menuju ke destinasi pertama, yaitu Pantai Glagah 2 dan 1. Sesampainya di Pantai Glagah, para peserta dikumpulkan di pendopo pantai dengan acara perdana tukar menukar kado yang sudah disiapkan dari rumah masing-masing. Sesi pembukaan dikawal oleh Bapak Gaib A., sedangkan sambutan oleh Manajer GEMI Kantor Bantul Ibu Sudartini dan Ketua Koperasi GEMI Ibu Ekantini. Dalam sambutan Ibu Ekantini, beliau menyampaikan bahwa agenda ini bisa dimanfaatkan untuk saling bersilaturahim dan menambah saudara. Selain itu, beliau berpesan untuk selalu semangat dan terus berkarya. Di sesi pembagian dorprize, peserta diberi pertanyaan seputar GEMI dan diminta untuk memberikan kesan dan pesan selama menjadi anggota GEMI. Salah satu peserta mengemukakan bahwa, “Di GEMI kami selalu diajarkan untuk disiplin dan bertanggung jawab. Semoga ke depannya usaha kami semakin lancar dan maju dengan pembiayaan dari GEMI,” ujarnya dengan penuh semangat.
Di Pantai Glagah 1, peserta dapat menikmati keindahan laguna dan disediakan kapal atau sepeda kayuh untuk mengelilinginya. Selain itu karena Pantai Glagah memiliki ombak yang cukup tinggi, di pinggir pantai dipasang tetrapod untuk memecah ombak. Inilah salah satu keunikan dari Pantai Glagah yang tidak dimiliki oleh pantai lainnya. Setelah peserta puas menikmati wahana dan pemandangan yang ada, mereka berburu oleh-oleh khas pantai Glagah. Mulai dari masakan udang, ikan, undur-undur laut, dan makanan khas lainnya.
Lokasi kedua adalah Hutan Mangrove. Di sini kami dapat berkeliling melalui jembatan Api-api  yang dibangun dengan kayu dan bambu. Jembatan ini sangat unik, hanya dengan material kayu dan bambu serta dibuat bertingkat. Jembatan bagian atas digunakan untuk wisatawan yang akan masuk ke Hutan Mangrove, sedangkan jembatan bawah digunakan untuk wisatawan yang pulang dari Hutan Mangrove. Karena cuaca yang terik, kami bergegas untuk berpindah ke lokasi ketiga yaitu Waduk Sermo.
Di Waduk Sermo, kami disuguhi waduk nan luas dengan hamparan pepohonan menghijau yang mengelilingi waduk. Destinasi ini menyajikan keindahan panorama waduk, lengkap dengan kapal-kapal yang dapat disewa untuk mengelilingi waduk. Tidak lupa di lokasi ini, kami menunaikan sholat ashar dan berfoto bersama. Di bawah ini adalah foto bersama sebagian peserta wisata dengan view bukit di Waduk Sermo.
D:\work\Gemi\artikel\piknik.jpg
Pukul 16.20, kami bersiap untuk pulang. Diwarnai dengan canda tawa ibu-ibu dalam bis dengan panitia, menjadi moment tersendiri bagi kami hingga tiba di kantor kembali. Semoga yang kami lakukan ini akan memperkuat tali silaturahim antara anggota, manajemen dan karyawan Koperasi GEMI. Semoga tulisan ini bermanfaat (DS).



Anda tentu pernah melihat hasil kreasi anyaman pandan berupa tas, dompet, tikar, dan lain-lain. Tahukah Anda bahwa tas tersebut terbuat dari pandan berduri? Pandan duri (Pandanus tectorius) sebenarnya tumbuh subur di daerah pantai dan pegunungan berkapur seperti Gunungkidul. Akan tetapi, masih sedikit pengrajin yang mengembangkan kerajinan tersebut.

Melalui fasilitator Koperasi GEMI, kami mendapat informasi bahwa di daerah Kedung Poh Lor, Nglipar, Gunungkidul terdapat pengrajin tikar mendong. Mendong (Fimbristylis umbellaris), yang memiliki nama lain purun tikus, merupakan rumput yang hidup di rawa. Setelah kami survey ke sana, ternyata ibu-ibu di sana hanya menganyam mendong tanpa mengetahui proses pengolahan mendong tersebut dari bahan mentah hingga siap dipasarkan.

Mereka mendapat bahan tersebut dari ’juragan’ dan nantinya hasil pengolahan juga akan dipasarkan oleh ’juragan’ tersebut. Akhirnya, ibu-ibu pengrajin hanya mendapat upah yang minim. Selain itu, kreativitas mereka juga tidak bertambah karena mereka hanya membuat produk sesuai permintaan ’juragan’. Padahal, mendong sendiri dapat dikreasikan ke berbagai bentuk produk, seperti: tas, sandal, dompet, tempat tissue, dan lain sebagainya. Namun, di pasaran, kreasi mendong kalah dengan kreasi pandan yang lebih bagus secara pewarnaan dan bahan. Anyaman mendong memang cenderung lebih lemas daripada anyaman pandan yang kaku. Selain itu, anyaman mendong berwarna lebih kusam sehingga kurang diminati. Dengan berbagai alasan tersebut, kami mencoba mengalihkan anyaman mendong yang telah biasa dilakukan oleh ibu-ibu di sana, ke anyaman pandan yang lebih banyak peminatnya.

Di awal pelatihan, kami mencoba memberi gambaran kepada ibu-ibu yang biasa menghias anyaman mendong tentang produk anyaman pandan. Kami menunjukkan tas-tas dan dompet anyaman pandan yang sudah jadi, namun masih polos dan hanya di-bleaching (proses pemutihan dengan zat kimia). Kemudian kami bersama-sama menghiasnya dengan kain perca, manik-manik, dan juga bunga-bunga dari kain.

Dari berbagai kerajinan anyaman pandan ini, yang paling laku di pasaran adalah clutch. Clutch merupaka tas yang digenggam dan biasanya digunakan saat pesta atau acara-acara formal. Harga clutch di pasaran dimulai denga harga Rp 50.000 untuk yang polos atau hanya diberi satu warna. Bila clutch sudah dihias, harganya bisa menjadi dua hingga empat kali lipat tergantung seberapa bagus hiasan dan bahan hiasannya.

Di pelatihan berikutnya, kami mencoba memberi warna ke pandan yang sudah dianyam. Kemudian ibu-ibu dilatih untuk mencoba membuat pola clutch. Ternyata beberapa ibu-ibu masih kesulitan untuk mengikuti. Meskipun demikian, ibu-ibu tetap antusias untuk menghias clutch anyaman pandan yang sudah jadi. Mereka pun menghias secara berkelompok.

Walaupun masih belum rapi, pandan yang biasa-biasa saja bisa terlihat lebih cantik dan elegan. Ke depan, kami berencana untuk melakukan studi banding ke rumah bapak Sutaryono. Beliau merupakan salah satu pengrajin anyaman pandan yang sudah sukses di daerah Pandak, Bantul. Beliau mengembangkan usahanya sudah lebih dari sepuluh tahun dan hasil produksinya sudah dipasarkan ke berbagai kota di Indonesia.

Harapan kami, ibu-ibu di daerah Nglipar bisa juga mencoba peluang usaha ini untuk menambah kesejahteraan ibu-ibu di sekitar daerah tersebut. Selain itu, kegiatan ini juga menambah skill ibu-ibu yang sudah bisa menganyam mendong sebelumnya dengan kemampuan menganyam pandan yang pasarnya lebih potensial.
Temu Generasi Bintang - Gemi Maal



Sejak kecil kita tentunya sering mendapat pertanyaan, ”Kalau besar nanti, cita-citanya ingin jadi apa?” Mungkin sebagian akan menjawab ingin jadi dokter, pilot, guru, dan lain sebagainya. Lalu pernahkan terpikir di benak kita, apa cita-cita anak-anak bangsa yang mungkin hidupnya tak berpunya atau yang sudah ditinggal ayah atau ibunya, atau bahkan keduanya. Mungkinkah mimpi itu hanya akan berakhir menjadi bunga tidur dan lama-lama menjadi kabur sesaat setelah ia terbangun. Akankah pemandangan ini tak merisaukan hati-hati kita yang mungkin masih disibukkan dengan harta-harta dunia.
Siang itu selepas sholat Jumat, Gemi Maal mengadakan pertemuan dengan para calon penerima donasi beastudi untuk yatim dalam Program Gerakan Orang Tua Asuh Generasi Bintang. Acara tersebut diadakan di kantor Kopsyah (Kopersi Syariah) Gemi cabang Gunungkidul. Dalam pertemuan kali ini, kami mengadakan interview dengan para wali anak yatim dan juga melengkapi berkas-berkas terkait anak yatim calon penerima beastudi. Dalam pertemuan wali tersebut kami mampu mengetahui kondisi anak yatim dan keluarga wali secara langsung.
Pertemuan wali Generasi Bintang - Gemi Maal
Pertemuan wali Generasi Bintang
Sementara itu, para anak calon penerima donasi beastudi Generasi Bintang dikumpulkan di ruang terpisah. Dalam forum ini kami mencoba mengeksplor dan memotivasi belajar anak-anak tersebut. Selain itu, kami juga menggali apa sebenarnya cita-cita anak-anak setelah dewasa nanti. Beberapa anak menjawab dengan percaya diri. Namun sebagian besar masih malu-malu dan tak yakin dengan cita-citanya. Kami pun mencoba memotivasi anak untuk terus bersekolah dan menuliskan cita-cita mereka agar dapat menjadi motivasi mereka saat semangat turun atau malas belajar. Pertama-tama mereka masih sulit untuk mengungkapkannya ke dalam tulisan. Namun akhirnya mereka pun bisa menuliskan hingga menggambarkannya. Acara diakhiri dengan penyerahan tabungan dan beastudi tunai kepada anak dan walinya.
Acara Motivasi Generasi Bintang - Gemi Maal
Acara motivasi Generasi Bintang
Selepas acara, Tim Gemi Maal berkumpul sejenak untuk evaluasi. Dalam obrolan itu, kami menyadari berbagai hal. Pertama, melalui interview dengan wali, kami menyadari bahwa kondisi anak-anak memang cukup memprihatinkan. Hal ini diperkuat saat di forum banyak anak yang sulit mengungkapkan cita-citanya. Secara psikologis, anak-anak memang terguncang dan kurang mendapatkan perhatian. Kedua, perlu adanya pendampingan psikolog untuk memberi motivasi anak yang lebih intens untuk terus belajar meskipun dalam keterbatasan.
Ke depannya, Gemi Maal punya harapan besar agar kelak para generasi bintang tak takut untuk memiliki cita-cita yang tinggi, meskipun dalam berbagai kondisi. Tentunya hal ini tidaklah mudah. Untuk itu, kami mengajak bapak, ibu, dan saudara sekalian untuk ikut peduli dengan pendidikan putra-putri generasi bintang dan bergabung menjadi bagian dari gerakan kami :)



Anda sudah pernah mengetahui tanaman pegagan? Tanaman liar yang biasa tumbuh di sawah dan daerah lembab ini ternyata bisa diolah menjadi cemilan yang enak dan menyehatkan. Pegagan atau Centella asiatica adalah tanaman tropis yang hidup merambat dan berbunga sepanjang tahun. Masyarakat mengenal tanaman ini dengan nama antanan atau daun kaki kuda. Terdapat empat jenis tanaman pegagan, yaitu: antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung, dan antanan air.

Sejak zaman dulu, tanaman pegagan diketahui memiliki berbagai khasiat, diantaranya: melancarkan peredaran darah,  menurunkan tekanan darah, peluruh kencing, penurun panas, menghentikan pendaharan, meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, anti alergi, dan sebagainya. Daun pegagan bisa dikonsumsi secara langsung sebagai lalapan atau dikonsumsi sebagai obat dengan cara direbus, dibuat kapsul dan juga serbuk.

Seiring berjalannya waktu, banyak orang tertarik mengembangkan berbagai inovasi pangan. Salah satu indikasinya adalah semakin beragamnya alternatif makanan sehat. Gemi Maal bersama ibu-ibu LKP (Lembaga Keuangan Perempuan) Makmur Bersama yang berada di Dusun Jatirejo, Lendah, Kulonprogo mengadakan pelatihan pembuatan keripik pegagan.

Pembuatan keripik pegagan sendiri tidak jauh berbeda dengan pembuatan keripik bayam, keripik singkong dan lainnya. Namun, pada pelatihan kali ini kami mengundang pelatih dari Kopsyah (Koperasi Syariah) Gemi cabang Magelang, yakni ibu Suwarti yang sudah berpengalaman membuat keripik. Keistimewaan keripik kali ini adalah tepung yang dibuat khusus untuk mengolah keripik, peyek, bahkan untuk membuat ayam goreng tepung krispi.

Jenis pegagan yang dipilih adalah pegagan/antanan kembang yang daunnya lebar dan tidak terlalu muda ataupun tua. Pengolahan keripik ini dimulai dengan membersihkan daun pegagan dengan air mengalir sampai bersih. Kemudian disiapkan tepung khusus yang dicampur dengan bumbu, air secukupnya, dan bahan-bahan lainnya. Setelah itu, daun pegagan dimasukkan ke dalam adonan tepung satu persatu, kemudian digoreng ke dalam minyak yang sudah mendidih. Goreng pegagan sambil dibolak-balik, jika sudah agak kecoklatan angkat dan tiriskan di atas kertas/tissue untuk menyerap sisa-sisa minyak.

Selama pelatihan ibu-ibu LKP Makmur Bersama sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Pada percobaan pertama pembuatan keripik ini cukup memuaskan. Keripik pegagan yang dihasilkan memiliki tekstur yang krispi, enak, dan gurih. Selain enak, keripik pegagan memiliki khasiat yang luar biasa. Untuk itu ke depannya, ibu-ibu LKP Makmur Bersama bisa menghasilkan produk lokal yang berkualitas dan bisa dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Kulonprogo yang tentunya mampu bersaing dengan produk-produk olahan sejenisnya.


Istilah-istilah dalam ekonomi Islam bukanlah istilah dan maknanya dibuat sendiri tanpa ada contoh konkret dari Rasulullah. Pada zaman Rasulullah sudah ada sistem permodalan, sebagaimana pada masa sekarang. Perbedaannya terletak pada proses administrasi dan pencatatannya. Dalam sistem ekonomi Islam terkenal dengan istilah “Al Mudhorobah” atau dikenal dengan sistem bagi hasil.

Al mudhorobah berasal dari kata adh dhorbu, dengan bentuk fi’il (kata kerja) dhoroba – yadhribu, yang berarti memukul. Kata ini berubah maknanya dalam kalimat adh dhorbu fil ardhi, berarti berjalan di muka bumi. Maksudnya adalah berjalan di muka bumi (bepergian) untuk membelanjakan dagangan. Pada waktu zaman Nabi sudah ada praktek dimana seseorang menyerahkan sebagian hartanya, untuk diperniagakan, dan hasilnya, dibagi antara keduanya. Ini lah yang disebut dengan qiroth, atau mudhorobah.

Sistem bagi hasil dapat dilihat dari hubungan Nabi Muhammad dan Siti Khadijah sebelum mereka menikah. Siti Khadijah punya modal yang sangat banyak, tetapi kurang pandai berdagang. Sedangkan Rasulullah, tidak memliki modal tapi punya kepandaian dalam berdagang. Sehingga sistem mudhorobah ini, pada intinya menguntungkan bersama, karena;

1.      Punya skill (kemampuan) dan pengalaman tetapi tidak punya modal.
2.      Punya modal dimana uangnya ‘menganggur’ tetapi tidak memiliki skill (kemampuan) dan pengalaman dan tetapi juga menginginkan keuntungan.
Contoh yang lebih konkret ketika pada zaman sahabat, mereka banyak yang menyerahkan harta anak yatim dalam bentuk mudhorobah. Sehingga waktu itu, sebenarnya sudah muncul kesadaran akan artinya perputaran uang untuk permodalan. Dalam suatu ayat al Qur’an terdapat kalimat ‘Likay Laa yakuuna duulatan baina aghniyaa’i minkum” (agar kekayaan tidak berputar hanya di kalangan orang kaya dari sebagian kamu). Sehingga pada masa dulu, ada barang tetap dan konsumsi, ada pula kekayaan untuk diputar sebagai modal, ada pula barang produksi dalam bentuk ladang atau ternak. 

Islam mensyariatkan akad kerjasama di bidang permodalan untuk memudahkan orang, baik investor maupun pemilik usaha, bahkan sekalipun dengan orang non muslim. Pada zaman kenabian, Nabi Muhammad SAW pernah menyerahkan kebun  kurma dan ladang di Khaibar, milik kaum muslimin, agar mereka mengerjakannya, dengan perjanjian mereka mendapatkan separuh dari hasil tanaman (Bukhori & Muslim).

Kadang dalam melakukan perjanjian, salah satu pihak lalai menunaikan janjinya. Misalnya, pengusaha tidak jujur, dan melakukan pekerjaan dengan modal yang ada di tangan, seadanya, hingga merugikan investor (pemodal) yang sudah memebrikan kepercayaan kepadanya. Sehingga dalam sistem mudhorobah, mestinya dilakukan dengan saling percaya antara satu dengan lainnya. kedua, bisa pula dengan sistem pengawasan, agar pemodal dapat memastikan bahwa modal benar-benar dikelola dengan baik, sehingga bisa untung bersama. Dalam sistem permodalan, hal ini dinamakan dengan tafrith atau ta’addadi (menggunakan uang tidak untuk keperluan usaha).







         A.     Kisah Nabi Muhammad Saw

Gelar “Al Amiin” yang disematkan oleh kaum Quraisy kepada diri Rasulullah, bukan karena sebab dari satu perkara, yaitu masalah pengangkatan hajar aswad ke ka’bah setelah kota Mekkah dilanda banjir sebelum masa kerasulan. Istilah ini dinisbahkan kepada sifat Rasulullah yang dikenal oleh orang Quraisy, sebagai orang yang benar-benar dapat dipercaya.

Sehingga, banyak dari orang Quraisy menitipkan barang kepada rasulullah, dan ketika kembali, mendapatkan barang mereka secara utuh sama sekali. Bahkan tradisi menitipkan barang dan dipercayakan kepada rasul ini pun berlanjut hingga pada masa kerasulan. Meski mereka sangat membenci rasul karena menyatakan diri sebagai Nabi dan menentang berhala sesembahan mereka, tetapi mereka tak dapat memungkiri sifat amanah pada diri rasulullah. Rasulullah tak memakan barang ini walau dalam keadaan diboikot sekalipun.

Sebelum hijrah, Rasulullah baru mengembalikan semua barang yang dititipkan kepadanya, lewat sayyidina Ali. Di tengah nyawanya terancam, rasulullah masih memikirkan bagaimana mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya.  Kebiasaan rasulullah dalam merawat barang titipan ini lah yang di-sistem-kan dalam aktivitas perbankan islam dengan nama ‘wadi’ah’. (Barang Titipan).

Selama rasulullah merawat barang tersebut, rasulullah tak memakai barang tersebut, berusaha merawatnya agar tidak rusak. Ini lah yang jadi dasar hokum bagi wadiah yad amanah, yang artinya tangan amanah, karena diberi amanat merawat barang titipan tanpa memakai barang tersebut, dan mencegahnya dari kerusakan.

          B.      Kisah Sahabat Zubair Ibn Awwam

Ada pula sepenggal cerita dari sahabat tentang ‘titipan barang’. Adalah seorang Zubair Ibn Awwam, yang tidak mau menerima titipan barang dalam bentuk uang yang tidak dapat diputar (deposit/ simpanan/ titipan), kecuali jika ia memakainya dalam bentuk pinjaman. Jika dipakai dalam bentuk pinjaman, ia hanya punya kewajiban untuk mengembalikan uang (dalam bentuk dinar atau dirham) tersebut dengan utuh.

Tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga asset yang punya potensi untuk dikembangkan sebagai modal, juga masuk dalam kategori ini, seperti tanah, bangunan, pick up, dan sebagainya. Ini lah yang kemudian disebut dengan istilah wadiah yad dhomanah. Yad dhomanah artinya tangan penanggung. Karena ia yang bertanggungjawab dalam memakai barang tersebut, jika terjadi kerusakan atau hilang, akan menjadi tanggungannya.

C.         Jenis Wadiah & Perincian Hukumnya

Dari cerita di atas didapatkan sebuah kesimpulan, bahwa wadiah yad amanah, adalah praktek yang didasarkan atas karakter mulia Nabi Muhammad Saw, sehingga dapat dihukumi dengan Sunnah. Sedangkan yang kedua (Wadiah yad dhomanah)  adalah praktek dari Sahabat Nabi, tidak ada keterangan rasulullah melarangnya, sehingga hukumnya sebagai mubah. Dengan catatan, harus ada 'aqd atau akad, karena transaksi dalam bentuk apapun, harus transparan dan didasarkan atas prinsip kerelaan bersama.

     D.     Aplikasi dalam Sistem Perbankan Islam

Dalam prakteknya, wadiah yad dhomanah, dikembangkan dalam system perbankan Islam. Dimana uang dapat dipakai oleh bank untuk diputar dalam bentuk investasi. Sehingga aktivitas Bank dalam bentuk pengelolaan investasi dari para nasabah adalah bentuk dari wadiah yad dhomanah. Dalam sistem ini harus disertai akad bahwa titipan uang, boleh diputar untuk keperluan usaha.


      E.      KESIMPULAN

WADIAH
Wadiah Yad Amanah
Wadiah Yad Dhomanah

Titipan murni, dari seorang ke pihak lain.


Memakai barang titipan dengan menggunakan barang yang bersangkutan.

Dipraktekkan secara langsung oleh Rasulullah. Beliau menerima barang, menjaga dan merawatnya pada masa periode Mekkah.

Dipraktekkan oleh Zubair Ibn Awwam, yang menerima titipan uang, dan dipergunakannya sebagai bentuk pinjaman.



Dipraktekkan pada perbankan Islam, dengan menggunakan titipan uang dari nasabah bank digunakan sebagai investasi.

Adalah aspek ‘Amaliyah berdasarkan Sunnah Nabi, hukumnya Sunnah
Adalah aspek iqtishodiyah berdasarkan praktek ekonomi sahabat Nabi, hukumnya Mubah.